BOGORnesia – Suatu hari, Imam Ahmad bin Hanbal melakukan perjalanan jauh. Ketika malam tiba, beliau ingin beristirahat di sebuah masjid. Namun, penjaga masjid tidak mengizinkannya menginap di dalam.
Karena tidak ingin menyusahkan, beliau pun keluar dan duduk di depan masjid. Seorang penjual roti yang melihat keadaan itu merasa iba.
“Wahai orang tua, mari menginap di tempatku,” ajaknya.
Imam Ahmad pun menerima tawaran tersebut.
Di rumah sederhana itu, sang penjual roti bekerja membuat adonan. Yang menarik perhatian Imam Ahmad adalah lisannya yang tidak pernah berhenti beristighfar—mengucapkan “Astaghfirullah” berulang-ulang.
Imam Ahmad bertanya, “Apakah engkau selalu seperti ini?”
Penjual roti menjawab, “Ya, sejak lama saya membiasakan diri untuk terus beristighfar.”
Imam Ahmad kemudian bertanya lagi, “Apa yang engkau dapatkan dari kebiasaan itu?”
“هَلْ وَجَدْتَ لِلاِسْتِغْفَارِ ثَمَرَةً؟”
(“Apakah engkau menemukan buah/manfaat dari istighfar itu?”)
Penjual roti itu menjawab dengan penuh keyakinan:
“نَعَمْ، مَا دَعَوْتُ دُعَاءً إِلَّا اسْتُجِيبَ لِي، إِلَّا دُعَاءً وَاحِدًا”
(“Ya, tidaklah aku berdoa kecuali dikabulkan, kecuali satu doa.”)
“Apa itu?” tanya Imam Ahmad.
“Saya ingin sekali bertemu dengan Imam Ahmad bin Hanbal,” jawabnya.
Mendengar itu, Imam Ahmad tersenyum dan berkata,
“Sesungguhnya Allah telah mendatangkan aku kepadamu. Akulah Ahmad bin Hanbal.”
Hikmah yang Bisa Diambil
- Istighfar membuka pintu kebaikan
Sebagaimana firman Allah, istighfar bisa menjadi sebab datangnya rezeki dan kemudahan. - Keikhlasan lebih penting daripada status
Penjual roti hanyalah orang biasa, tapi dekat dengan Allah. - Doa tidak pernah sia-sia
Bisa jadi tertunda, tapi akan datang pada waktu terbaik.













